Thursday, June 26, 2008

Kiswanti, Bersepeda Melawan Pembodohan

"Kemarin bukan milik kita, hari ini dan sekarang milik kita untuk berbuat baik. Dan besok tidak ada yang tahu. Apa mungkin kita kita melakukannya!"

sang suami maunya istri itu punya baju bagus, ada perhiasan emas. Lebaran juga harus pake baju yang bagus. tapi sang istri malah tidak pernah peduli dengan baju yang bagus atau perhiasan yang bagus. Yang dibeli hari kehari kalau ada duit selalu beli buku. "Suami itu kan kewajibannya membahagian istri. Saya bahagia dengan keadaan seperti ini. Tidak perlu dengan beli baju yang bagus!"

"Orang miskin itu bukan tidak bisa pintar!"


Kira-kira bunyinya seperti itu. Habis aku tidak sempat mencatatnya.


Sebuah INSPIRASI buat kita semua!!!

METRO TV, OASIS - HARAPAN DI PEDHAL SEPEDA

Komersialisasi dunia pendidikan sudah menjadi realita. Guru yang kesejahteraannya kian ditingkatkan, ternyata terus menjadikan murid sebagai lahan bisnis. Buku pelajaran hingga buku tulispun, menjadi sarana bisnis rutin tiap tiga bulanan. Sekolah kian mahal, dan keluarga miskin kian jauh peluangnya mendapatkan akses pendidikan.

Kiswanti (45), ibu rumah tangga yang tinggal di kampung Lebak Wangi, desa Pemagarsari, Parung , Bogor adalah sosok yang tanpa pamrih membantu warga kurang mampu untuk mengakses buku.

Ia bukan orang kaya, suaminya hanya kuli bangunan. Kiswanti juga bukan kalangan pendidik dan berpendidikan tinggi. Perempuan asal Yogyakarta itu, hanya lulusan Sekolah Dasar. Namun, kecintaannya membaca dan mengkoleksi buku, membuat perempuan dua anak ini memiliki koleksi buku hingga 2500 judul.

Sejak tahun 2003, Ia membangun taman bacaan, yang diberi nama Warung Baca Lebak Wangi (Warabal). Bukan hanya itu, dengan sepeda onthel-nya, Kiswanti secara rutin berkeliling dari kampung ke kampung, meminjamkan buku koleksinya secara gratis. ”saya punya dendam sejak kecil, kemiskinan bukan halangan untuk pinter. Saya tidak ingin anak-anak disekitar saya, mengalami nasib saya dimasa kecil..” katanya.

Enam tahun berjuang, kini Warabal menjadi andalan warga desa Pamegarsari untuk kebutuhan buku. Wanita lulusan SD itu berjiwa pendidik melebihi mereka yang berpendidikan. Cita-citanya tinggi, ingin membangun pendidikan murah, tapi bukan murahan. Kiswanti menjadi sosok aneh, di tengah prilaku komersialisasi dunia pendidikan

---------------------------------------
KompasOnline - Jumat, 21 Juli 2006

Sosok: Kiswanti, Bersepeda Melawan Pembodohan
** perpustakaan "Warabal"
Oleh: Indira Permanasari dan Rien Kuntari



Kemarahan pada dunia pendidikan yang terus membara di hati membuat wanita ini terpacu melawan "pembodohan" dan buta aksara dengan caranya sendiri. Berbekal sepeda onthel (kayuh), ia mencoba menumbuhkan rasa cinta membaca di kalangan masyarakat yang bisa
disebut "terbawah".

Kiswanti, begitu wanita ini terlahir. Ia tinggal di daerah Lebak Wangi, Bogor, di sebuah rumah yang tak seberapa besar. Meski seadanya, rumah tipe 36 itu menjadi tempat pertemuan
komunitas Lebak Wangi. Tepatnya, Warung Baca Lebak Wangi atau Warabal.

Ruang tamu yang juga berfungsi sebagai warung kelontong, berimpitan dengan meja makan sekaligus tempat belajar serta tempat menjahit, di ruang dalam. Ujung meja berbatas dengan sebuah rak buku yang kemudian disebut sebagai perpustakaan. Kursi dan meja sepertinya tidak lengkap satu set, semua dalam motif yang berbeda. Keramik di lantai juga tidak "kompak" lantaran dipungut dari reruntuhan tempat kerja suaminya, Ngatmin, seorang buruh bangunan.

Perpustakaan yang ia maksud adalah sebuah rak yang tersandar di dinding, penuh dengan beragam buku. Mulai dari buku bacaan anak, resep masakan, tanaman, buku cerita, hingga majalah berbahasa Jawa, Joko Lodang. Maklum, meski sudah berada di Jakarta sejak tahun 1980- an dan pindah ke Bogor sekitar tahun 1994, Kiswanti tetaplah perempuan Jawa yang lahir di Desa Ngidikan, Bantul, Yogyakarta, tanggal 4 Desember 1963.

Selain rak di ruang dalam, buku-buku Kiswanti yang kini berjumlah 245 eksemplar juga tertumpuk di sebuah kardus dan keranjang-keranjang di sudut rumah dan di teras, bahkan di bekas kulkas tua dan karatan di belakang rumah. Kulkas itu sengaja ia beli dari seorang tukang loak, khusus untuk menyimpan koran-koran tua.

Gagal sekolah

Kesadaran Kiswanti pada pentingnya membaca sudah tumbuh sejak usia dini. "Dari kecil saya senang membaca apa saja," ujarnya.

Pengenalannya pada buku diperoleh dari sang ibu, almarhumah Tumirah. Buku adalah satu-satunya hal yang bisa dibeli Tumirah dengan harga murah, tetapi cukup "menenggelamkan" Kiswanti. Ia memang berasal dari keluarga tidak mampu. Ayahnya, Trisno Suwarno, adalah petani gurem di Bantul.

Kiswanti masih mengingat percakapannya dengan salah seorang gurunya. Sang guru melarangnya naik kelas hanya karena ia belum membayar SPP selama lima bulan. "Saya nangis. Saya bertanya, ’Saya, kan, sering ikut lomba-lomba (deklamasi dan membaca), kenapa
hanya enggak bayar SPP lima bulan tidak naik kelas?’" katanya dengan nada tinggi dan
berapi-api.

Hal serupa terjadi lagi di SLTA. Ia terpaksa berhenti di kelas II karena tak ada biaya. Namun, ia berhasil mengantongi ijazah dari sebuah madrasah tsanawiyah negeri di kampungnya dan
ikut Kejar Paket C, tetapi tidak selesai.

Gagal dan geram pada dunia pendidikan membuat Kiswanti mengandalkan buku sebagai gudang ilmu paling berharga. Pengalaman itu pula yang membuatnya mantap menularkan pentingnya membaca di kalangan masyarakat sekitar. Modal mendirikan perpustakaan ia
awali dengan menjadi pembantu rumah tangga di keluarga Filipina di Jakarta, sekitar tahun 1989. "Saya tidak minta dibayar dengan uang, tetapi dengan buku. Ya kalau sekarang, mungkin saya dibayar sekitar Rp 40.000," ujarnya.

Untuk selanjutnya, ia menyisihkan ongkos belanja ke pasar sebesar Rp 3.000 dari total keuntungan warung kelontong Rp 7.000 per hari. "Setahun kemudian saya bisa membeli sepeda ini," katanya bangga. Hal itu masih ditambah dengan hasil tulisan ceramah pengajian di
kelompoknya yang kemudian ia fotokopi dan ia jual seharga Rp 5.000.

Dengan usaha itu, koleksi buku Kiswanti yang semula hanya puluhan kini telah menjadi ratusan.

Sepeda "onthel"

Dengan sepeda onthel itu, Kiswanti setiap hari menempuh sekitar lima kilometer untuk mengenalkan buku kepada masyarakat setempat. Ia tidak ingin melihat orang bernasib seperti dirinya. Menjadi "bodoh" hanya karena tak ada biaya.

Ia membawa sebagian buku koleksinya di dalam keranjang yang kemudian ia boncengkan di sepeda. Usahanya bersepeda selama sekitar tujuh bulan di tahun 2003 itu membuahkan hasil. Tetangga sekitar yang mayoritas buruh pabrik garmen menjadi "melek" akan pentingnya
membaca. Ia tidak memungut bayaran karena buku masih menjadi barang mewah.

"Saya bilang ke mereka, kalau anak-anak saya bisa pintar dan masuk sekolah favorit, itu karena saya membiasakan membaca buku," ujar ibu dari Afief Priadi (16), siswa terbaik SMK II Ciluar, Bogor; dan Dwi Septiani (12), siswa kelas V SD Lebak Wangi.

Perlahan tetapi pasti, kini Kiswanti mampu melengkapi perpustakaannya dengan gitar, seruling, komputer, serta mesin tik. Tentu, semuanya pada tingkat yang sangat sederhana.

Jiwa mendidik Kiswanti tak hanya tertuang melalui perpustakaan, tetapi juga pada sikap tegasnya menolak barang dagangan yang tidak bermanfaat di warungnya. Misalnya, makanan ringan berpengawet tinggi atau mainan tiup yang konon mengandung racun. "Saya kira tidak adil kalau kita hanya berbicara keuntungan," ujarnya tegas.

Untuk mengajarkan disiplin, ia hanya menjual permen hanya kepada anak- anak yang sudah mandi, suka minum air putih, atau sudah makan.

Kiswanti sekarang memang tak harus setiap hari mengayuh sepeda onthel- nya. Namun, ia menyatakan takkan pernah lelah mengajak warga berkunjung ke taman bacaannya demi seteguk ilmu.

----------------------

Mengayuh Sepeda, Membagi Ilmu…




Oleh
Periksa Ginting

BOGOR – Matahari baru saja terbit di ufuk timur, tetesan embun masih membasahi dedaunan, tapi Kiswanti mulai sibuk berbenah. Bukan untuk berangkat ke kantor seperti layaknya seorang karyawan atau ke kebun untuk bertani, perempuan ini membenahi ratusan buku di atas sepeda onthel (sepeda kumbang) warna merah.
Sebagian buku itu dikemas dalam keranjang yang diikat di jok belakang, sebagian lagi terbungkus kantong plastik yang bergelayut di stang sepeda.
Sepeda dan buku beraneka judul itu dibawa Kiswanti berkeliling desa dan ditawarkan untuk penduduk sebagai bahan bacaan. Tidak saja buku pelajaran bagi siswa, namun juga buku pertanian, menu masakan, novel dan lain-lain. Buku itu dipinjamkan kepada warga tanpa dipungut bayaran. Tidak heran kalau akhirnya warga menjuluki Kiswanti sebagai “Perpustakaan Keliling Sepeda Onthel”.
Tanpa kenal lelah, ibu berambut hitam lurus ini mengayuh sepeda hingga berkilo-kilometer. Jalan setapak dari kampung ke kampung ia lalui, terkadang sampai jatuh terjengkang di jalan becek dan berlubang, atau napas ngos-ngosan di jalan menanjak saat mendorong sepeda bermuatan penuh buku.
Sejak 21 April 2003 kegiatan rutin ini dilaluinya, tapi Kiswanti—akrab dipanggil Bude—tidak pernah menyerah. “Baca dan tulis itu adalah mata uang yang berlaku di mana saja dan kapan saja.

Orang yang gemar membaca akan memperoleh pengetahuan seluas-luasnya serta bisa mengembangkan hidup mandiri,” kata ibu dua anak ini.
Kiswanti mengungkapkan banyak warga desa yang beranggapan kalau membaca dan menulis hanya penting bagi anak sekolah, sedangkan bagi yang putus sekolah apalagi ibu rumah tangga, tidak bermanfaat lagi. Pemahaman seperti inilah yang ingin dihilangkan wanita kelahiran Bantul, 4 Desember 1965 ini.
Keuletannya ternyata sering dicibir sejumlah warga. Ada yang menyebut pekerjaan Kiswanti yang mengabaikan urusan keluarga lalu keluar-masuk kampung dengan seabrek buku sambil mengayuh sepeda, sebagai pekerjaan orang gila.
“Pemahaman warga itu sangat merugikan. Membaca itu penting bagi siapa saja. Apapun yang dibaca akan memberikan ilmu pengetahuan bagi kita. Dengan membaca, kita bisa mengembangkan pemikiran baik terhadap dunia usaha, pertanian, kesehatan, lingkungan, dan harapan ke masa depan,” tambahnya.

Narasumber
Saat ini, penyampaian minat baca itu disampaikan melalui kelompok pengajian yang terdiri dari 25 kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 25 orang, tersebar di tiga desa di Kecamatan Pemagarsari, Kabupaten Bogor.
Di samping itu, Kiswanti juga mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Warabal (Warung Baca Lebak Wangi) seluas 40 meter persegi. TBM yang kini mengoleksi 1.734 eksemplar dari 700 jenis buku itu berlokasi di samping kiri rumahnya di Jl. Kamboja RT 01/RW 01 No. 17 Kampung Lebak Wangi, Desa/Kecamatan Pemagarsari.
Setiap hari, pagi hingga sore, TMB Warabal didatangi warga, mulai dari anak usia 3 tahun hingga 50 tahun untuk membaca. Ada yang meminjam buku untuk dibaca di rumah.
“Saya senang atas perubahan sikap masyarakat itu, walaupun belum seluruh warga menerima program yang saya tawarkan. Saat ini, baru ada 155 anak usia 3-15 tahun, dan 110 orang dewasa usia 16-50 tahun menjadi anggota TBM,” lanjut Kiswanti.
Selain upayanya mulai membuahkan hasil, ia kini sering dipanggil untuk menjadi pembicara pada acara diskusi atau kegiatan lainnya yang berhubungan dengan dunia pendidikan, baik itu di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), maupun di Solo dan Surabaya.
Lulusan sekolah dasar (SD) itu terkadang harus berdampingan dengan dosen, pejabat pemerintah, maupun istri menteri untuk menanamkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membaca.
“Saya sering merasa risih berdampingan dengan dosen atau pejabat tinggi ketika menjadi narasumber dalam suatu acara. Tapi semua itu tertolong karena ketekunan saya membaca selama ini,” jelas Bude.

Melawan Kemiskinan
Apa yang membuat Kiswanti rela berkorban untuk mewujudkan program ”Gemar Membaca”? Semuanya berawal dari ketidakmampuan orangtua untuk menyekolahkannya. Anak pertama dari pasangan Trisno Suwarno-Ny. Tumirah ini ketika masih sekolah di SD pernah dibuat tinggal kelas karena tidak membayar uang sekolah. Ia padahal selalu menduduki peringkat pertama di kelas.
“Saya sangat kecewa tidak naik kelas gara-gara tidak mampu membayar uang sekolah. Untungnya ada guru yang rela membiayai sekolah saya. Tapi guru itu meninggal saat saya di SMP sehingga saya harus keluar sekolah,” paparnya.
Saat masih sekolah, Kiswanti juga sering dikucilkan teman-temannya karena berasal dari keluarga miskin, sehingga setiap jam istirahat ia menghabiskan waktu di perpustakaan. Setelah keluar dari sekolah, Kiswanti bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Cipete Selatan, Jakarta Selatan.
Saat itu, ia tetap melanjutkan kegemarannya membaca buku. Gajinya pun digunakan untuk membeli buku. “Sejak 1987 saya mulai mengoleksi buku. Ada yang dibelikan teman, ada pula saya beli sendiri. Sampai saat ini, koleksi pribadi saya sudah 205 judul,” katanya.
Tidak ingin nasib yang menimpanya dialami anak-anak lain, Kiswanti mendirikan perpustakaan pada 20 Desember 2003. Ia juga mengajak warga untuk melawan kemiskinan melalui Perpustakaan Keliling Sepeda Onthel-nya dalam program ”Gemar Membaca”.
Kesibukan Kiswanti didukung oleh suaminya, Ngatmin. Pria yang bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta ini membantu mencuci pakaian atau memasak nasi.
“Hanya dukungan yang bisa saya berikan kepada istri. Saya tidak bisa membahagiakan dengan makanan yang enak atau perhiasan yang gemerlap. Kalau dengan kegiatan itu istri saya bahagia, saya akan terus mendukungnya,” tutur Ngatmin. (*)


=====================================

Kiswanti, Bersepeda Pinjamkan Buku

Minggu, 28 Oktober 2007, REPUBLIKA.CO.ID - Rumah sederhana itu tak asing lagi bagi warga Kampung Saja, Lebak Wangi, Pemegarsari, Parung, Bogor. Berada di tengah-tengah permukiman, ruang tamu rumah itu dijadikan warung oleh pemiliknya. .

Sebuah ruangan berukuran 45 meter persegi di sisi kiri rumah dipenuhi sedikitnya 2.500 buku dan sebuah komputer lengkap dengan printer. ''Tanah ini saya beli seharga Rp 4,5 juta, diangsur 5 tahun,'' kata Kiswanti, pemilik rumah itu mengungkapkan. .

Ruangan di sisi rumah itu ia jadikan Taman Bacaan Warabal, singkatan dari Warung Baca Lebak Wangi. Hampir setiap hari masyarakat dari kelompok umur yang berbeda mendatangi tempat ini. .

Pagi dipakai untuk mengenalkan huruf dan angka kepada anak usia 3,5-5 tahun, petang giliran anak usia sekolah (6-10 tahun) belajar agama dan belajar kelompok, malam tempat berkumpul remaja 11-18 tahun belajar berkelompok. Ibu-ibu mendatangi tempat ini di sela-sela waktu mereka. Ruang baca dibuka 24 jam, tidak dikunci. .

Tak bisa sekolah
Taman Bacaan Warabal bermula dari kegemaran Kiswanti mengumpulkan buku. Di masa kecilnya, perempuan kelahiran Yogyakarta, 4 Desember 1962, ini berbeda dengan anak-anak seusianya di Desa Ngipian, Jetis, Bantul. Kemiskinan membuatnya tak bisa mengenyam bangku pendidikan formal lebih tinggi. Ayahnya, Trisno Suwarno, seorang tukang becak. Ibunya, Tumirah, penjual jamu gendong. .

Trisno berteman dengan penjual koran di tepi jalan. Meski hanya penarik becak, tapi Trisno gemar membaca. Ia kerap membawa koran bekas ke rumah. Huruf-huruf besar dari koran itu ia gunting, ia susun huruf demi huruf lalu dikenalkan kepada anaknya. .

Dari koran bekas itulah Kiswanti bisa membaca. ''Umur delapan tahun baru saya bersekolah,'' ujar sulung dari lima bersaudara itu mengisahkan. .

Orang tuanya tak mempunyai uang untuk menyekolahkannya. Maka, Kiswanti masuk sekolah tanpa sepengetahuan orangtuanya. Ia ikut belajar di SDN Kepuh, tak jauh dari kediamannya. ''Waktu itu masuk sekolah bisa tidak perlu mendaftar,'' tuturnya. Empat bulan belajar, ia belum membayar sepeser pun. Saat disuruh membayar, Kiswanti minta ke orangtuanya. ''Ayah saya bilang, 'Kamu keluar saja'.''.

Kiswanti sedih. Ia ngambek. Selepas Maghrib, ia menghilang dari pandangan orangtuanya. ''Saya naik ke pohon, melihat kepanikan orangtua,'' ujarnya. Trisno lalu menguatkan diri, mengumpulkan uang untuk menebus tunggakan Rp 14 untuk empat bulan uang sekolah. .

Kiswanti menempati peringkat atas di kelas 1. Saat tahun ajaran baru dimulai, siswa berbaris sesuai kelas. Kiswanti berada dalam barisan siswa kelas 2. Tiba-tiba seorang guru menarik pundaknya, ''Kamu tidak naik (kelas). Biar pintar, tapi 5 bulan tidak bayar.'' Kiswanti diam. Rapat guru memutuskan, ia bebas uang sekolah. .

Main di kuburan
Tak ada kebahagiaan yang ia rasakan bersekolah sampai menamatkan pendidikannya di SD itu. Tak ada siswa yang mau menemaninya bermain. ''Teman-teman selalu mengejek saya anak orang miskin, kere, tidak selevel,'' ujar dia. Tidak jarang rambutnya dijambak, tapi ia tetap tak bereaksi. Ini membuat Kiswanti selalu menyendiri. Setiap jam istirahat, ia berada di kuburan yang berada tak jauh dari lingkungan sekolah. .

Gurunya menanyakan alasannya bermain di kuburan. ''Sudah, kamu main di perpustakaan saja,'' saran guru itu memberi solusi. Kiswanti girang. Semangat membacanya terpenuhi. Ia bahkan dipercaya menjadi pengurus perpustakaan sekolah. Membaca membuatnya sering juara di sekolah. .

Nasib baik menghampirinya setamat dari sekolah itu. Berkat jasa seseorang, ia bisa masuk di sebuah madrasah di Bantul. Sayang, tidak berlangsung lama. Ia hanya empat bulan bersekolah. Gara-garanya, ia hanya punya selembar seragam sekolah. .

Lantaran sering dicuci, baju itu menjadi kekuning-kuningan, sehingga ia sering diejek temannya. Kiswanti berhenti. ''Ayah bilang, kamu tidak usah sekolah. Kita miskin,'' katanya. Trisno hanya berpesan, ''Sampai kapan pun, kalau kamu bisa membaca, kamu tetap bisa pintar.''.

Kiswanti mulai rajin mengumpulkan buku. Tidak bersekolah ia imbangi dengan banyak membaca. Ia mengumpulkan beragam buku bekas, pembelian orangtuanya di pasar loak. Kurun 1982-1987, ribuan judul buku terkumpul di rumahnya. ''Kalau Lebaran orang lain beli baju baru, saya beli buku,'' ucapnya. .

Ke Jakarta
Usia remaja ia nekat ke Jakarta. Kala itu, 1987, saat kedua orangtuanya tidak berada di rumah. Di Jakarta ia jadi pembantu rumah tangga di rumah orang Filipina, bergaji Rp 40 ribu per bulan. .

Majikannya punya perpustakaan pribadi di rumah. Kiswanti senang. Semula ia minta imbalan dibayar dengan buku, tapi majikannya membawa Kiswanti ke Kwitang membeli buku senilai gajinya sebulan. ''Tujuan saya menambah koleksi buku,'' katanya. .

Ketika majikannya ingin kembali ke negaranya, dia diberi pesangon Rp 50 ribu. Kiswanti melangkah ke stasiun, ingin kembali ke desa. Di stasiun ia bertemu Ngatimin, seorang tukang batu yang sedang mengantar pembantu majikannya. Tawaran pekerjaan dari Ngatimin mengurungkan niat Kiswanti pulang kampung. Sebulan bekerja, keduanya menikah. ''Syaratnya, saya suka buku,'' kata Kiswanti. Pria itu tidak keberatan. .

Setelah berpindah dari satu proyek ke proyek lainnya, pasangan ini membeli sebidang tanah di Kampung Saja, Parung. Kiswanti memboyong koleksi buku-bukunya. Di kampung itu ia melihat masyarakat masih jauh dari kebiasaan membaca. Kiswanti membuka warung di rumahnya, buku-buku digelar di situ. Anak-anak yang datang berbelanja, juga melihat-lihat buku. .

Kabar banyak buku di rumah Kiswanti menyebar di seluruh warga kampung. Peminat bertambah. Ia mulai berkeliling dengan bersepeda dari satu kampung ke kampung lainnya, membawa sejumlah buku. Buku boleh dipinjam bergantian, gratis. ''Banyak anak-anak yang tidak bisa datang ke sini, jadi saya menjemput bola,'' katanya. .

Kegiatan Kiswanti bersepeda keliling terdengar oleh pejabat di Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Kiswanti diminta mengajukan proposal untuk bantuan dana, tapi ia tak mau. ''Saya hanya tamatan SD, tidak tahu buat proposal,'' kata dia. Dia kemudian dijemput, proposal dibuat di kantor Depdiknas. ''Dikasih dana Rp 10 juta, saya pakai beli rak buku, sebagian buat beri honor pengajar,'' ujarnya. .

Saat gempa melanda Yogyakarta, Trisno, ayahnya mengunjungi Kiswanti. Trisno terharu melihat taman bacaan dengan ribuan koleksi buku dan kegiatan sehari-hari di rumah anaknya. ''Bapak sampai menangis,'' kata Kiswanti. ''Sekarang bapak punya kebanggaan di kampung.'' .


====================================

Alamat Ibu Kiswati adalah sebagai berikut

Taman Baca “WARABAL”
Jl. Kamboja, RT. 001 RW. 01
Kampung Lebak Wangi,
Desa Pemagarsari,
Kecamatan Parung.
Bogor,
Jawa Barat

No comments: