hampa
senyum masih membekas disini
tawamu masih membayang dikepalaku
kau mengapa hilang dariku
tanpa kata
kau berlalu
kini aku semakin rindu padamu
kini, hidupku merintih tanpamu
kalau kau dengar suara dari angin
inilah keluhku
hidupku tak berarti tanpamu
menyangimu
tak ingin kau bersedih
walaupun menangis, biarlah ku usap airmatamu
tak ingin kau berduka
walaupun terenyuh, kuingin memberimu senyum
ku menyayangimu
ku ingin dekatmu selalu
ku menyayangimu
ingin selalu bersamamu
tapi kau tak menyayangiku
hujan
basah bumimu
basah sepatuku
kuberlari
menikmati hujan
mengepak tanganku
seperti ingin terbang
hujan
basahi rambutku
angin meniupku
dingin sekali
dalam basah
dan riangku
bulovard
tak perlu aku menangis lagi
karena kau tak pernah datang lagi
sudah kering airmata ini
dan kini seperti mimpi
karena dirimu tak lagi disini
tapi harus kujalani
mengertilah,... walau kau tak pernah mengerti
mengertilah,... semua tak ada sempurna
mengertilah,...
aku seperti berada diujung jalan
tapi hatiku terus mencari jawaban
terus mencari dirimu
Sulitnya
Semenjak kau tak ada disini
Ada yang harus kututupi
Pada awan yang bertanya
Yang kusembunyikan sedihku
Ada yang ingin ku jelaskan padamu
tapi tak dapat bersuara
sungguh tak mudah
sungguh tak mudah
to u
u know? im very hppy whn u near of me...
....
...
..
.
.....
..
..
..
......
.
hijau itu sedang marah
tak tahu bagaimana harus mengambil sikap. Hanya diam, "apa yang harus dijelaskan ya!" teriakan tanpa suara. Dan yang dapat dibuat, hanya memukul-mukul sesuatu.
Apalagi beberapa sms, hanya dengan kata-kata singkat! yang pasti dia marah?!
"Oh no!...." kucoba meneleponnya. Tapi,... benar dia memang lagi marah besar!.
kuingat kata-katanya saaat dia marah, terus kucoba meneleponnya. "Kamu marah?!,...." tanyaku
"kalau marah, ngapain aku angkat teleponnya..." jawabnya. Nah, sekarang ini dia benar-benar marah!!!!
Apalah diriku...
tak punya pilihan
aku kau tinggalkan
ku tak berdaya
aku tak punya apa-apa
sadarku memaksa
tuk melihat siapa aku
aku hanya sebatas luka
diam, seperti baju yang terpaku
sapa sebelum tidur
y udah kubaca kok
makasih y
aq senang membcanya
makasih y
aq senang membcanya
elegi danau yang tak biru
sekabut pagi yang menjelma
menghalangi pandanganku
kau....
aku yakin kau disana
pagi ini kabutmu begitu tebal
tak seperti biasanya
walau dingin kucoba bertahan
sesekali ku mendengar suaramu
ada tawamu
aku senang sekali derai tawamu
buat ku bahagia
walau kau entah dimana
seperti telaga bening berkabut
dan kita diatasnya
tapi saling tak menemukan
menghalangi pandanganku
kau....
aku yakin kau disana
pagi ini kabutmu begitu tebal
tak seperti biasanya
walau dingin kucoba bertahan
sesekali ku mendengar suaramu
ada tawamu
aku senang sekali derai tawamu
buat ku bahagia
walau kau entah dimana
seperti telaga bening berkabut
dan kita diatasnya
tapi saling tak menemukan
terima kasih
setelah sebelumnya dia tak ingin mengucapkan sebuah terima kasih
dan sorenya malah dia mengatakan "terima kasih,...."
Hmmmn,...
dan sorenya malah dia mengatakan "terima kasih,...."
Hmmmn,...
Kuity
Simple kan namanya, tapi sebenarnya tidak sesimple yang dikira. Lumayan complicated! Ya, mungkin orang seperti saya akan menilainya begitu. Atau mungkin hanya saya saja yang demikian? Ya, tidak jadi masalah juga sih untuk menilai orang lain.
Kenapa kita harus menilai orang lain? Ini sih bukan untuk apa-apa atau harus bagaimananya. Dengan meyakinkan diri sendiri dalam penilaian kepada orang lain hanyalah untuk mengedepankan dari sebuah hubungan dari manusia ke manusia. Dan bagaimana kita mengatasi ragam perilaku teman, relasi, sahabat, orang lain, atasan ataupun bawahan. Dan mungkin juga suami/istri atau juga pacar? (hmmm...)
Dalam propestif nalar, dia orangnya sederhana, pemalu (mungkin karena belum kenal), selalu berusaha dengan mengedapankan aturan-aturan yang nyata. Periang? ah, tidak juga. Biasa aja seperti Es Cream, biasa aja nya sedikit agak naik. Tapi tetap aja biasa. Kalau cuma makan goreng dan bersantan, kenapa harus ke rumah makan padang. Kan dirumah juga masak! Hanya senyum melukiskan kata-kata yang telah diucapkannya. "Mak!... Wak!.... Ahh! Ngeeee! Kek!...
Ya, begitulah dia!
Apa dia begitu?...
Kenapa kita harus menilai orang lain? Ini sih bukan untuk apa-apa atau harus bagaimananya. Dengan meyakinkan diri sendiri dalam penilaian kepada orang lain hanyalah untuk mengedepankan dari sebuah hubungan dari manusia ke manusia. Dan bagaimana kita mengatasi ragam perilaku teman, relasi, sahabat, orang lain, atasan ataupun bawahan. Dan mungkin juga suami/istri atau juga pacar? (hmmm...)
Dalam propestif nalar, dia orangnya sederhana, pemalu (mungkin karena belum kenal), selalu berusaha dengan mengedapankan aturan-aturan yang nyata. Periang? ah, tidak juga. Biasa aja seperti Es Cream, biasa aja nya sedikit agak naik. Tapi tetap aja biasa. Kalau cuma makan goreng dan bersantan, kenapa harus ke rumah makan padang. Kan dirumah juga masak! Hanya senyum melukiskan kata-kata yang telah diucapkannya. "Mak!... Wak!.... Ahh! Ngeeee! Kek!...
Ya, begitulah dia!
Apa dia begitu?...
Subscribe to:
Comments (Atom)


Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances