Nature/hot-posts

Soeharto Wafat

Riwayat Kesehatan dan Pengobatan Soeharto Sejak 1999

Artikel Terkait:
Minggu, 27 Januari 2008 | 13:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Berikut adalah riwayat kesehatan dan pengobatan mantan Presiden Soeharto:

11 – 12 Februari 1969
Presiden Soeharto beristirahat selama dua hari di kediamannya karena kelelahan. Sakitnya itu mulai terasa ketika Presiden sedang memimpin sidang sub Dewan Stabilitasi Ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta. Presiden merasa pusing dan berkeringat sehingga harus berganti pakaian.

14 – 21 Desember 1975
Presiden Soeharto menjalani operasi kandung empedu dan perawatan pascaoperasi di Rumah Sakit Sint Carolus, Jakarta.

09 - 11 Juli 1996
Presiden Soeharto memeriksakan kesehatannya di rumah sakit Bad
Oeynhausen, Jerman. Ketua tim dokter, Prof Reiner Koerfer, menyatakan, Presiden lebih sehat dari yang diduga. Untuk orang setua Presiden Soeharto (75), kondisi kesehatannya sangat baik.

20 – 30 Juli 1999
Mantan Presiden Soeharto (78) dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Menurut menantu Soeharto, Indra Rukmana, Presiden kemungkinan terkena serangan stroke ringan.

14 – 19 Agustus 1999
Mantan Presiden Soeharto dirawat di RSPP, Jakarta, karena mengalami perembesan darah dari anusnya.

07 Oktober 1999
Tim dokter mantan Presiden Soeharto dalam Surat Keterangan yang ditandatangani Dr Hari Sabardi, menyatakan, Jenderal Besar TNI itu masih dalam keadaan sakit, sehingga tidak dapat mengikuti pemeriksaan di Kejaksaan Agung. Ketua tim penasihat hukum Soeharto, Juan Felix Tampubolon menjelaskan, Surat Keterangan itu dibuat, berkaitan dengan rencana Pjs Jaksa Agung Ismudjoko yang hendak mengumumkan status hukum Soeharto pada tanggal 11 Oktober 1999.

17 Februari 2000
Berkaitan dengan rencana DPR dan Kejaksaan Agung memanggil mantan Presiden Soeharto, Probosutedjo, saudara tiri mantan Presiden Soeharto mengatakan, kondisi mantan Presiden Soeharto sehat secara fisik. Namun dia tidak bisa bicara. Kalaupun dipaksakan, bicaranya harus pelan-pelan dan sangat susah. Menulis pun tidak bisa. Yang masih bisa hanya tanda tangan. Karena itu, tidak efektif kalau pihak DPR dan Kejaksaan Agung tetap berkeinginan memanggil Soeharto untuk menjelaskan soal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

13 Maret 2000
Mantan Presiden Soeharto, menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Pemeriksaan kesehatan itu dilakukan Tim Dokter RSCM didampingi Tim dokter Soeharto untuk menentukan kelanjutan pemeriksaan hukum atas diri Soeharto.

28 Maret 2000
Koordinator Kuasa Hukum Soeharto, Juan Felix Tampubolon menjelaskan,
hasil pemeriksaan tim dokter terhadap kesehatan mantan Presiden Ssoeharto, menyatakan, Soeharto mengalami hambatan dalam komunikasi. Artinya, apa yang dikatakan Soeharto tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

04 April 2000
Jaksa Agung Marzuki Darusman menyatakan, rekomendasi tim medis RSCM mrnyatakan Soeharto bisa menjalani pemeriksaan. Karena itu tim penyidik Kejaksaan dapat melakukan pemeriksaan awal, dan akan diikuti dengan pemeriksaan lebih lanjut.

10 April 2000
Kesehatan mantan Presiden Soeharto menurun, ketika hendak dilakukan pemeriksaan oleh Kejaksaan Agung. Direktur Politik Kejaksaan Agung Purnama Munte menjelaskan, sesuai penjelasan dokter, baik dari RSCM maupun dari dokter Pak Harto, mantan Presiden Soeharto belum dapat memberikan keterangan. Oleh karena itu, pemeriksaan ditunda sampai ada penjelasan resmi dari dokter yang menyatakan Soeharto mampu memberikan penjelasan.

12 Juni 2000
Tim penyidik Kejaksaan Agung, seusai memeriksa mantan Presiden Soeharto di Jalan Cendana Nomor 8 Jakarta Pusat, diminta tim penasihat hukum mantan Presiden Soeharto untuk menghentikan pemeriksaan atas diri Soeharto. Karena sebagian besar pertanyaan tidak dapat dijawab oleh Soeharto karena menyangkut kejadian beberapa tahun silam. Selain itu, apa yang disampaikan Soeharto tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

23 September 2000
Tim pemeriksa kesehatan mantan Presiden Soeharto, terdiri dari unsur IDI, Departemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran (FK) UI, FK UGM, dan FK Unair, melakukan pemeriksaan kesehatan mantan Presiden Soeharto di RSPP, Jakarta.

28 September 2000
Tim dokter penguji yang diketuai Prof Dr dr M Djakaria SpR menyimpulkan bahwa Soeharto, baik fisik maupun mental dalam keadaan tidak laik untuk disidangkan. Keadaan tidak laik ini bersifat permanen. Dari hasil pemeriksaan ditemukan, kemunduran daya ingat dan kemampuan berbahasa Soeharto, serta kemampuan menerima, memahami, maupun menuangkan ide sangat buruk. Soeharto hanya mampu memahami ide sederhana yang dikemukakan secara perlahan dan berulang-ulang. Dan dalam mengungkapkan ide Soeharto mengucapkan kata yang tidak sesuai dengan yang ia maksudkan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Tim dokter yang memeriksa kesehatan mantan Presiden Soeharto, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan untuk menghentikan persidangan kasus dugaan korupsi mantan Presiden Soeharto dan membebaskannya dari tahanan kota.

13 – 14 November 2000
Mantan Presiden Soeharto mengalami anfaal dan sesak napas, di kediaman Jalan Cendana No 8, Jakarta. Tim dokter segera memasang saluran oksigen untuk membantu pernapasan dan infus untuk memperkuat tubuhnya.

26 Maret - 02 Maret 2001
Mantan Presiden Soeharto dirawat di RSPP, Jakarta, karena mengalami sesak napas dan tekanan darahnya naik.

12 - 13 Juni 2001
Mantan Presiden HM Soeharto menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung permanen di RSPP, Jakarta. Operasi yang berlangsung selama sekitar 35 menit tersebut berlangsung sukses.

17 – 28 Desember 2001
Mantan Presiden Soeharto kembali dirawat di Rumah Sakit Pertamina Pusat karena menderita radang paru-paru, sesak nafas, dan panas. Kondisinya
memburuk karena usianya yang sudah lanjut.

14 Maret 2002
Mantan Presiden Soeharto dirawat di rumahnya di Jalan Cendana No.8 Jakarta karena mengalami perdarahan setiap kali buang air besar.

26 April 2004
Karena kembali mengalami pendarahan pada pencernaan bagian bawah atau secara spesifik pendarahan di usus besar yang mengakibatkan hemoglobin (Hb) rendah, yaitu 6,3, mantan Presiden Soeharto harus kembali dirawat di RSPP, Jakarta.

05 – 10 Mei 2005
Mantan Penguasa Orde Baru, Soeharto, dirawat lagi di Rumah Sakit Pertamina Pusat, Jakarta. Usus besarnya kembali mengalami perdarahan.

04 November 2005
Mantan Presiden Soeharto, kembali dirawat Rumah Sakit Pertamina Pusat, Jakarta. Seorang sahabat dekat keluarga Soeharto mengatakan, Pak Harto kelelahan karena menerima banyak tamu pada Lebaran pertama.
Sedangkan sumber lain mengatakan, HB-nya turun.

4 Mei 2006
Mantan Presiden Soeharto dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, akibat perdarahan berulang pada saluran cerna. Perdarahan itu menyebabkan hemoglobin menurun hingga 7,8 gram persen dan berakibat pada menurunnya kadar oksigen di seluruh tubuh.

7 Mei 2006
Mantan Presiden Soeharto menjalani operasi pembedahan saluran cerna oleh tim dokter terpadu di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Operasi tersebut dilakukan guna mencegah pendarahan pada pencernaan bagian bawah atau secara spesifik pendarahan di usus besar bila terjadi infeksi.

18 Mei 2006
Dari pemeriksaan CT Scan, Tim Dokter Kepresidenan di Rumah Sakit Pusat Pertamina,Jakarta, menemukan dua titik penyumbatan pembuluh darah di otak bagian kanan mantan Presiden Soeharto.

4 Januari 2008
Mantan Presiden Soeharto kembali dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, karena kadar hemoglobin rendah, tekanan darah turun dan ada penimbunan cairan sehingga tubuh membengkak.

Sumber: Litbang Kompas


Soeharto Wafat


Minggu, 27 Januari 2008 | 13:29 WIB

Laporan Wartawan Kompas Maria Susy Berindra A

JAKARTA, KAMIS - Mantan Presiden Soeharto meninggal dunia pada pukul 13.10 WIB, Hal ini diterangka Kapolsek Kebayoran baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta, Minggu (27/1). Menurut rencana, jenazah akan segera disemayamkan di rumah duka Jalan Cendana, Jakarta.


LHW,Maria Susy Berindra A

Book Review: No one’s perfect


The Cover of No one’s perfect
The Cover of
No one’s perfect

In Association with Amazon.com
Buy this book
at Amazon.com

Author: Hirotada Ototake

Reviewer: Mark Groenewold

Date: October, 2005

Hirotada Ototake is a young man born with the condition of tetra-amelia, a condition that has left him both armless and legless. This is his story.

As a young man growing up in Japan where most handicapped people are rarely seen in public, the boy had physical and social challenges that as an able-bodied person I can hardly fathom. So much of this website is devoted to the practice of karate, how to use your body, how to use your arms and legs as deadly weapons, how to use your limbs for balance and to generate momentum and power. These are considerations that do not affect Mr. Ototake. Having neither arms or legs, for him karate is as much an abstraction as flying.

But what Mr. Ototake has instead is the inner world of a person who has overcome massive inequality and barriers. This short book documents his life, his growing up, his family life and their steadfast love and support, his school experiences, and the development and growth of his character.

Some people are under the impression that it is the study of karate that lends itself to the development of character. I suggest reading this book of a Japanese man with no arms and legs first before drawing that hasty conclusion.

I truly enjoyed this short autobiography as it takes a young man struggling with and growing with his physical disabilities who develops a passion for his country to be more accessible to people in wheelchairs. His mission is to make Japan "barrier free" for wheelchairs and the handicapped to move freely in public buildings and on public roads and streets. Japan is woefully behind in developing these amenities, although we are seeing some slow changes as time marches on.

But Mr. Ototake does not stop there. Certainly, the mission of making our physical environments accessible and "barrier free" is important. It is an important step in making our societies equal and fair for all. But there is more to being "barrier free" than just fixing sidewalks and installing elevators in buildings. There is the whole question of improving the "barrier free" quality of the human heart. Where there is ignorance and a mentality of ignoring problems there is also the inability to see our fellow human beings as our equals.

For Mr. Ototake, a human being is not the mere sum of his physical parts and pieces. A human being is measured by the quality of his character, the condition of his humanity towards others, and the contribution one makes to their fellow citizen and neighbor.

A marvelous short autobiography. Inspiring reading!

Mark Groenewold
Kanazawa, Japan
October, 2005

Annoying Thing

vieVIE doank [FS]

:: Wow, postITnya serius banget!


vie2 lagi
"" rEnTaNgkan lAh saYap moe Bila aQ meNcb BerPaliNg Dr kAsih dAn SayAng mOe mAkA bunuh la AQ bILa aQ meNcoBa MeNcAri PeGGgAnTi dIrI mOe ""

"aq orang na..emmmm....kalo belon kenal banget rada2 sedikit pendiem ta..pi..kalo da kenal pasti ceriwis abiees.tyuss yang..."

Beli Tiket Pesawat di Warung Jamu

Kejadian ini saya alami waktu saya tinggal di Denpasar bersama ortu. Kami sering nongkrong di warung jamu tradisionil di dekat rumah kami.

Pada suatu hari ketika kami sedang duduk duduk di warung jamu, sepasang bule datang ke warung yang kelihatan meriah dari jauh. Bule kucel dengan ransel di punggung itu melangkah dengan penuh percaya diri menuju ke halaman warung jamu. Dalam hati saya bangga juga jamu tradisionil kita sudah dikenal dimancanegara. Buktinya si bule pun mau mengunjungi warung jamu di Indonesia.

Makin dekat ke warung langkah bule tersebut kelihatan makin ragu ragu, namun tetap saja mendekati kami. Setelah dekat, salah seorang bertanya kepada kami dalam bahasa Inggris dengan wajah agak ragu, "Do you have a direct flight to Jogya for tomorrow?"

Gantian kami yang bengong sambil saling berpandangan penuh tanda tanya. Bukannya kami nggak tahu bahasa Inggris lho! Cuman tanya ticket pesawat kok di warung jamu.

Karena agak lama kami saling berpandangan tanda bingung, sekali lagi si bule bertanya, "Air Mancur is a domestic flight, doesn`t it?"

Astaga, ternyata nama Air mancur dikiranya nama suatu maskapai penerbangan yang sering menggunakan nama Air itu...

Sent by: e-ketawa

Mengintip Password Komputer Boss

Seorang office boy (OB) suatu hari sedang membersihkan lantai di belakang kursi Direktur. Saat itu sang direktur sedang duduk di kursinya mengerjakan sesuatu yang kelihatan sangat penting di depan komputernya. Saking sibuknya sang direktur berkonsentrasi ke komputer, ia tidak menyadari si office boy mengintip dari pundaknya apa yang sedang ia kerjakan.

Beberapa menit kemudian, di ruang office boy, ia mengatakan kepada rekannya yang lain, bahwa ia tadi sempat mengintip sang boss mengetikkan password-nya! Ia melihat huruf demi huruf! Ia pun tegang karena mungkin merupakan satu-satunya yang tahu password orang nomor satu di perusahaan itu!

Kabar angin pun beredar beberapa hari kemudian, dan seorang staf IT yang ingin masuk lewat jaringan ke komputer sang boss untuk mengetahui rahasia perusahaan terutama rahasia boss, mendekati si office boy.

"Saya akan bayar berapa untuk password itu?" tanya si staf IT.

Sang office boy dengan gugup menjawab, "Dua ratus ribu!"

"Kemahalan! Seratus," staf IT berargumen sambil langsung menyodorkan uang seratus ribu.

Oke si office boy pun setuju.

Setelah memberikan uangnya, si staf IT menyiapkan pensil untuk mencatat di secarik kertas. "Oke, apa passwordnya?"

"Bintang, bintang, bintang, bintang, bintang, bintang!" jawab sang office boy sambil berbisik. "Passwordnya ternyata hanya enam bintang!"

Sent by: e-ketawa

Diskusi Masalah Gaji Pegawai

Saat ‘ngrumpi’ di luar tugas antara orang Indonesia dan orang Eropa saling menanya perihal penghasilan masing-masing. “Berapa gaji anda dan untuk apa saja uang sejumlah itu?,” tanya orang Indonesia mengawali pembicaraan.

Orang Eropa menjawab, “Gaji saya 3.000 Euro, 1.000 euro untuk tempat tinggal, 1.000 Euro untuk makan, 500 Euro untuk hiburan."

”Lalu sisa 500 Euro untuk apa?” tanya orang Indonesia. Orang Eropa menjawab secara ketus, "Oh ... itu urusan saya, Anda tidak perlu bertanya!"

Kemudian orang Eropa balik bertanya, “Kalau penghasilan anda?”

"Gaji saya Rp950 ribu, Rp450 ribu untuk tempat tinggal, Rp350 ribu untuk makan, Rp250 ribu untuk transport, Rp200 ribu untuk sekolah anak, Rp200 ribu, bayar cicilan pinjaman, ... Rp100 ribu untuk....".

Saat orang Indonesia ‘nrocos’ menjelaskan, orang Eropa menyetop penjelasan itu dan langsung bertanya. "Uang itu jumlahnya sudah melampui gaji anda. Sisanya dari mana?," kata orang Eropa itu keheranan.

Kemudian, orang Indonesia itu menjawab dengan enteng,"Begini Mister, uang yang kurang, itu urusan saya, anda tidak berhak bertanya-tanya.”


Sent by: e-ketawa

Reboot - ctrl-Alt-Del



long distance relationships

"And ever has it been that love knows not its own depth until the hour of separation." --Kahlil Gibran


Long distance relationships require a special willingness and understanding that can test love like no other type of relationship can. It requires constant communication and a desire to continually create your relationship, using the only real tool you have... your words. In our guide, we've provided everything you need to do this and more from fun games to play to hundreds of romantic ideas to help keep your fire burning no matter how many miles may separate you.



:: http://www.lovingyou.com/content/advice/ldr/

Suciwati: Munir Cinta Sejati Saya


Suciwati, istri pejuang hak asasi manusia Munir, bersanding di samping patung Munir di halaman Gedung YLBHI Jakarta, Rabu (8/12).
Jumat, 25 Januari 2008 | 19:04 WIB

Kini… usai sudah s’gala penantian panjangku
Setelah temukan dirimu duhai kekasihku
Hanya… di hatimu akan ku labuhkan hidupku
Kar’na kau lah cinta terakhirku… woo… oooo
(Cinta Terakhir, Ari Lasso)

Lagu itulah yang terdengar di telinga kompas.com saat menghubungi istri Munir, Suciwati beberapa menit yang lalu. Suciwati ditelpon terkait putusan vonis yang dijatuhkan Makamah Agung terhadap Pollycarpus dalam kasus pembunuhan Munir.

Istri aktivis HAM itu mengaku telah menunggu lama kejelasan kasus pembunuhan terhadap suaminya. Secercah harapan pun muncul ketika Jumat (25/1) ini, MA memvonis Pollycarpus dengan hukuman 20 tahun penjara, meski ia berharap dalang pembunuh sebenarnya ikut terungkap.

Terkait dengan nada sambung teleponnya, Suciwati mengaku memang lagu itu ada hubungannya dengan ayah dari anak-anaknya.

"Karena saya telah menemukan cinta sejati saya, yaitu Munir. Mungkin saya tidak tahu tentang rencana Tuhan. Tapi untuk saat ini, Munir adalah cinta terakhir saya dan saya sudah menemukannya," ujarnya.

Tak lama kemudian, suara Suciwati terdengar terbata-bata dan lama-kelamaan menghilang. Namun, Suciwati masih dapat menjawab pertanyaan terakhir kompas.com dengan satu kata, "Iya." Saat itu kompas.com bertanya apakah dia sengaja memilih lagu itu untuk dijadikan nada sambung telepon genggamnya. Setelah itu, percakapan pun berakhir sebelum kompas.com mendengar isakan tangis Suciwati. (BOB)

sebuah cinta berwarna putih



jangan pernah berhenti

langkahmu...

cintamu...

kasihmu...

aku kan hadir selalu untukmu


.
untukku



Kata Terindah

kau adalah kata terindah
ingin kuukir selalu hasrat ini
tak kan pernah habis
ungkapan dengan kata padamu
aku begitu sayang padamu

kumohon,...
genggamlah tangan ini selalu
aku tak ingin jauh darimu
walau raga tak disini
tapi tetaplah jiwa bersatu

aku cinta padamu
berikan kata rindu selalu
agar aku bisa tidur lelap dimalam-malam tanpamu
berikan cium dari jauh
agar aku selalu yakin kau bersamaku

engkau sangat berarti
partikel kehidupanku
memberikan denyut hinggaku bahagia seperti ini
aku.... ingin utuh selalu bersamamu
itulah harapanku dan mimpiku
kuharap kaupun begitu




* kadang orang tidak pernah percaya kehidupan bisa karena kasih orang lain.

Mengharapkanmu

tak pernah kubayangkan
kutergantung padamu
hariku penuh,... selalu ada bayangmu

berikan cintamu
kumengharap kasihmu
penuh cahayamu yang mewarnai hidupku

berikan cintamu
kumendambakanmu
hangat bersamammu kurindukan selalu

sedamainya

dari hamparan hijau beberapa hari yang lalu
kini menguning seperti emas
kehidupan indah
tak pernah habis
aku bisa menari
walau tak selincah burung pipit itu
teriakkan ku terlindungi oleh suara sungai
oh sejuk...
damai hatiku
apalagi handphoneku tak ada signal
Hahahahahha....

Malam memintamu pulang

tak pernah kubiarkan
walau detak menghilang
terlalu rapuh mengingatnya
tapi,..
kau harus pulang
harus kuantar pulang
karena esok masih ada mentari
tuk bertemu kembali
disapa embun
mengucap pagi
biarlah indah
karena malam ini penuh sinar
dari bintang yang indah
malam memintamu pulang
sapa gelap yang hening
kau harus pulang
aku yang menemanimu
pulang ya....