Nature/hot-posts

Renang

Akhir-akhir ini aku suka renang.
Olahraga yang lumayan banyak bakar lemak.
Karena belajar renangnya dari kolam, aku enggak bisa renang tanpa kacamata renang.
Bener! kalo enggak pake kacamata, ampun dech! mending enggak usah renang. Sebenarnya dikantor ada faslitas renang. Tapi sampai saat ini aku enggak pernah renang disitu. Malah aku renang di club member (memberi uang)
Untung ada yang gratis, dikomplek bakal rumahku. Yang kebetulan ada club housenya. Tinggal sebut saja nomor rumah, trus ttd dech. Bersih dan terawat. Yang berenang juga tidak banyak.

Sebuah bronis dalam sebuah judul

Ilustrasi

Kalau kita duduk sendiri diantara orang yang berlalu lalang. Hanya beberapa saat saja mata kita mengikuti dari beberapa orang itu. Setelah itu, kitapun tak ambil pusing siapa-siapa yang bakal lewat didepan kita. Atau sesekali kita memperhatikan sesuatu yang ganjil,lebih atau kurang diantara mereka itu. Betulkan? Ya, itu kalau kita sendiri. Terus kalau kita berdua atau lebih. Mungkin kita duduk dan membicarakan sesuatu. Lalu seperti diawal tulisan ini. Memandang orang sekitar. Heheh, terbalik ya. Dan kemudian, beberapa orang melakukan pembahasan hal apa yang dilihatnya. Apa tu namanya?! Setalah itu barulah 'ngomongin orang lain! Gosip!! Seperti sebuah Bronis, dimakan dan lupa apa mereknya. Toh, kalau nikmat yang terkesan adalah rasanya. Seperti bronis kukus, yang pas sedikit terasa hangat (walau jarang sekali menemukannya, kecuali baru keluar dari microwave) itupun tak ada kotaknya lagi. Tinggal lep! Heheheh... Tapi kalau kesan rasa dari bronis itu memang luar biasa, dan tidak pernah memakan rasa seperti yang baru saja dimakan, maka ditanya "Beli dimana?!" ini biasanya orang yang paling banter beli di warung. Jarang sekali orang itu beli di, paling tidak dimini market. Atau memang jalannya mati langkah. Berat diongkos. Kalo enggak dari rumah kekampus doang! Atau juga sekali nebeng dengan 3 in one. Hahaha. Melas banget dech! Harusnya, "Merek apa bronisnya?"

nver 4get

Im sure

memang aku mencintaimu
memang aku menyayangimu

tak begitu

maafkan aku, tak lagi aku memelukmu
maafkan aku, tak lagi merangkulmu
selamanya,.. kuingin kau bahagia
biarlah detik napas semua untuk mu
dan daun membiarmu untuk hidup
karena kemaraupun akan kau lewati
kupercaya, cinta akan menjadi humus
dan menghidupi pohon lain
dengan begitu, hari inipun aku masih mengingatnya
walau mungkin hijaunya daun itu masih seperti dulu
ada ilalang
ada angin kecil bertiup

Tak Ada Yang Abadi [RCTI]

It's amazing!!! [09/09/09]
Meminta maaf terkadang membuat kita sulit melakukannya. Apalagi memberikan maaf. Apa yang saya lihat di acara ini, Subhanallah!!! luar biasa. Korban orang ini ada yang buta ada juga yang tuli karenanya. Dalam acara ini dia berusaha untuk meminta maaf apa-apa yang telah dilakukannya pada meraka. Subhanallah, mereka memafkannya. Walau memang benar, dengan memaafkan saja tidak bisa menggantikan apa-apa yang telah terjadi. Sangat manusiawi. Ya, itulah kata-kata anak mereka dari orang tua korban. Alhamdulillah, anak-anak mereka juga akhirnya memaafkan dia.
Memang urusan dunia, mungkin kita akan bisa telaah dengan pikiran saja. Tapi kumukzijatan itu sendiri terkadang tidak dapat dicerna dengan akal saja.
Dari lubuk hati, mereka sungguh luar biasa. Aku sendiri mungkin sulit melakukannya. Tapi dari gambaran ini, insyaAllah aku akan lebih mudah melakukannya. Minta dan memberi maaf. Pengadilan dunia tidak pernah bisa menuntaskannya. Allah maha melihat, maha mendengar, maha adil dan maha penyayang. Dan kitapun akan menghadapi pengadilanNya.
Suatu saat Rasulullah saw. pernah bertanya kepada para sahabatnya:
Nabi saw bersabda : “Mahukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.” (HR. Baihaqi)
“Dan jika kamu memberi maaf, maka itu lebih dekat kepada takwa.”
(Surah al-Baqarah, ayat 237)

kekasihku

kau telah belah dada ini
hingga hatipun mati
tak ada perasaan lagi
cinta yang lain itu telah kubunuh

perasaan ini hanya padamu
getar degup ini milikmu
hanya hanya kau yang miliki
segalanya untukmu
hidup dan matiku bersamamu
aku sungguh mencintamu

biarkan aku jadi hambamu
mengabdi selama hidupku
aku tak bisa hidup tanpamu
curahan hati napas paruku
dan darah kehidupanku


Buang OBAT

Hari minggu, hujan. Jadi males untuk keluar. Yang ada mau apa ya? Koran pagi udah kulumat. Apalagi? Ah, sebentar main internet. Terus,... apa lagi ya?! Bosan! Kuperhatikan meja tempatku kerja. Emang ruwet. Kayak pasar rakyat. Mau apa lagi, emang buku-buka banyak. Tempat kecil. Trus segala barang2 kecil juga nimbrung. Padahal sudah ada laci kecil. Tapi enggak solve it juga.
Hm, salah satunya adalah obat-obatan. Yang seharusnya harus dihabiskan pada waktu sakit. Aku sih kadang bandel untuk menghabisinya. Apalagi yang namanya amoxcilin, atau obat-obat flu dan vitamin. Tidak tuntas dimakan. Kalo sudah agak baikan, aku tinggalin dech obat itu.
Paling aku ubah sedikit pola sebelumnya. Kubanyakin tidur, kuseringin minum jus buah. Ya, gitu aja. Tapi kalo sudah parah, terpaksa dech langsung semprot. Biar legah dadaku.
Hm, jadi pungutin dech semua obat. Yang sudah kadaluarsa, atau yang sudah tidak kuingat lagi untuk apa obat ini. Pas waktu aku cari diinternet. Ya ampun, indikasinya aneh-aneh. Dan efek sampingnya juga enggak kalah mengerikan. Oh my Allah! Apa iya ya! obat ini untukku. Ah, sudahlah semua diaturNya.
Ternyata lumayan juga ne obat. Ah, buang ajalah! Toh, kalo sakit kan dapet yang baru. Sudahlah! Tapi kalo dibuang begitu aja. Takut digunakan / dipakai oleh orang yang enggak bener. Gimana kalo dijual lagi?! Ow ow ow ow!!!! Enggak boleh dong langsung dibuang gitu aja. Yang aku lakukan adalah menggunting-gunting semua obat. Biar tidak bisa dipergunakan lagi.
Mabok juga baunya. Cepat-cepat kubuang!

Balita 3 Tahun Ketinggalan di Halte Busway

Ari Saputra - detikNews
Jakarta
- Balita usia 3 tahun tertinggal di halte busway. Bocah itu ditemukan salah satu penumpang yang melihatnya bengong di sudut halte dan sempat menangis. Bocah tersebut ketinggalan orangtuanya saat memasuki bus TransJakarta.

"Saya mau menumpang bus, ada anak kecil. Kayak kehilangan ibunya saat masuk busway," kata salah satu saksi, Suparni (36) di Halte Busway Kebon Pala, Jakarta Timur, Minggu (6/9/2009).

Lalu, saksi melaporkan berita kehilangan anak ini ke Polres Jakarta Timur. Ciri-ciri anak itu berkaos merah dengan garis hitam, bercelana jins dan menggunakan sandal jepit bergambar "Spiderman".

"Yang merasa kehilangan bisa ke sini atau di telepon Polres 021-8191478," ucap salah satu petugas jaga Polres Jakarta Timur.

(Ari/iy)




UnHide

Rajutan yang hilang

biarkan aku beteriak
memerdekakan diri
membiaskan prahara yang mengapitku
biarkan tak ada yang mendengarku

aku memang tersudut pada pilihanku
biarkan kapas digenggamanku kulepas
terbang dikipas angin
tinggi,.. dan entah kemana harapan itu
melayang....
melayang....

seperti rajutan yang kehabisan benang
berhenti tanpa ada bentuk tanda tak jadi
benang itu tak ada lagi......
tapi rajutan itu terus digerakkan
tanpa benang
tanpa benang


Cak Munir, sebuah inspirasi


Photo of K.o.n.t.r.a.S MUNIR

MUNIR, seorang yang badan kecil tapi mempunyai jiwa keberanian raksasa. Tak bisa digambarkan betapa besar keberaniannya. Munir sirambut kuning. Munir, menjadi trigger bagi ibu-ibu/orang tua yang kehilangan anaknya. Menjadi berani mengungkapkan kebenaran. Yang dirampas oleh kekuasaan, yang dihilangkan oleh orang yang bersenjata, dan diinjak-injak oleh sepatu penghina hukum di negara ini. Dan HAMpun diabaikan.
Apa yang dibelanya sama dengan akhir dari kehidupannya. Dihilangkan nyawanya secara paksa. Dibunuh! Seharusnya negara ini bangga mempunyai orang cerdas seperti Munir. Bukan untuk dilenyapkan! Mengapa dia harus dihilangkan di Negara tercinta ini.
Dia adalah obor bagi kontras. Bagi orang-orang yang menghargai HAM. Untuk negara ini, untuk bumi yang bulat ini. Yang terus menyala. Dan mengobarkan semangat kepada Munir Munir baru.




Gempa - Cianjur

Seorang bapak kehilangan 11 anggota keluarganya. Termasuk istri dan ketiga anaknya. Anak ketiga yang masih berumur 3 minggu belum sempat dilhatnya. Hanya mendenger suara anaknya melalui HP. Saat terjadi bencana, dia berada diJakarta. Ia sangat trauma untuk melihat lokasi kejadian.

Kenyataan itulah

dan kenyataan itu
seperti ribuan tulisan yang berulang ulang
diatas pasir...
ditepi pantai...
tak pernah bosan
tak pernah bosan
kutulis....
"kau yang tak tergantikan...."

semoga aku bisa melupakannmu
untuk sebuah harapan
untuk sebuah keinginan


Gempa 7,3 SR

roboh-karena-gempa-luar.jpg