s a h a b a t
kau selalu hadir
walau jarang kita bertemu
tapi kau selalu ada
sahabat, kau selalu ada
saling menerima
dari kekurangan kita
dari kelebihan kita
wow sahabatku
Ayat-ayat CInta
1. Gadis Mesir Itu Bernama Maria
Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik. Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen berbentuk kubus dengan pintu, jendela dan tirai tertutup rapat.
Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk shalat berjamaah di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beribadah sesempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang tegak berdiri dalam deburan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari. Ia tetap teguh berdiri seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih tak kenal kesah. Atau, seperti matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero mayapada. Ia tiada pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan.
Awal-awal Agustus memang puncak musim panas.
Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri sebenarnya sangat malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh satu derajat celcius! Apa tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan panas, biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluarkan darah. Teman satu flat yang langganan mimisan di puncak musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasuki pukul sebelas siang sampai pukul tujuh petang, darah selalu merembes dari hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di dalam kamarnya sambil terus menyalakan kipas angin. Sesekali ia kungkum, mendinginkan badan di kamar mandi.
Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen [1] aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi [2] pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini aku belajar qiraah sab’ah [3] dan ushul tafsir [4] . Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khushari, ulama legendaris yang mendapat julukan Syaikhul Maqari’ Wal Huffadh Fi Mashr atau Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an di Mesir.
Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin itu seminggu dua kali. Setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat waktu. Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak sakit dan tidak ada uzur yang teramat penting, beliau pasti datang. Sangat tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarang menerima murid untuk talaqqi qiraah sab’ah. Siapa saja yang ingin belajar qiraah sab’ah terlebih dahulu akan beliau uji hafalan Al-Qur’an tiga puluh juz dengan qiraah bebas. Boleh Imam Warasy. Boleh Imam Hafsh. Atau lainnya. Tahun ini beliau hanya menerima sepuluh orang murid. Aku termasuk sepuluh orang yang beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena, di samping sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan Al-Qur’an pada beliau di serambi masjid Al Azhar, juga karena di antara sepuluh orang yang terpilih itu ternyata hanya diriku seorang yang bukan orang Mesir. Aku satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. Tak heran jika beliau meng-anakemas-kan diriku. Dan teman-teman dari Mesir tidak ada yang merasa iri dalam masalah ini. Mereka semua simpati padaku. Itulah sebabnya, jika aku absen pasti akan langsung ditelpon oleh Syaikh Utsman dan teman-teman. Mereka akan bertanya kenapa tidak datang? Apa sakit? Apa ada halangan dan lain sebagainya. Maka aku harus tetap berusaha datang selama masih mampu menempuh perjalanan sampai ke Shubra, meskipun panas membara dan badai debu bergulung-gulung di luar sana. Meskipun jarak yang ditempuh sekitar lima puluh kilo meter lebih jauhnya.
Kuambil mushaf tercinta.
Kucium penuh takzim. Lalu kumasukkan ke dalam saku depan tas cangklong hijau tua. Meskipun butut, ini adalah tas bersejarah yang setia menemani diriku menuntut ilmu sejak di Madrasah Aliyah sampai saat ini, saat menempuh S.2. di universitas tertua di dunia, di delta Nil ini. Aku mengambil satu botol kecil berisi air putih di kulkas. Kumasukkan dalam plastik hitam lalu kumasukkan dalam tas. Aku selalu membiasakan diri membawa air putih jika bepergian, selain sangat berguna juga merupakan salah satu bentuk penghematan yang sangat terasa. Apalagi selama menempuh perjalanan jauh dari Hadayek Helwan sampai Shubra El-Khaima dengan metro [5] , tidak akan ada yang menjual minuman.
Aku sedikit ragu mau membuka pintu. Hatiku ketar-ketir. Angin sahara terdengar mendesau-desau. Keras dan kacau. Tak bisa dibayangkan betapa kacaunya di luar sana. Panas disertai gulungan debu yang berterbangan. Suasana yang jauh dari nyaman. Namun niat harus dibulatkan. Bismillah tawakkaltu ‘ala Allah [6] , pelan-pelan kubuka pintu apartemen. Dan...
Wuss!
Angin sahara menampar mukaku dengan kasar. Debu bergumpal-gumpal bercampur pasir menari-nari di mana-mana. Kututup kembali pintu apartemen. Rasanya aku melupakan sesuatu.
“Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?” saran Saiful yang baru keluar dari kamar mandi. Darah yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.
“Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Aku sangat tidak enak pada Syaikh Utsman jika tidak datang. Beliau saja yang sudah berumur tujuh puluh lima tahun selalu datang. Tepat waktu lagi. Tak kenal cuaca panas atau dingin. Padahal rumah beliau dari masjid tak kurang dari dua kilo,” tukasku sambil bergegas masuk kamar kembali, mengambil topi dan kaca mata hitam.
“Allah yubarik fik [7] , Mas,” ujarnya serak. Tangan kanannya mengusapkan sapu tangan pada hidungnya. Mungkin darahnya merembes lagi.
“Wa iyyakum! [8] ” balasku sambil memakai kaca mata hitam dan memakai topi menutupi kopiah putih yang telah menempel di kepalaku.
“Sudah bawa air putih, Mas?”
Aku mengangguk.
:: to be conti... AYAT-AYAT CINTA
tidak seperti biasa
kau tak disini lagi
tapi aku masih disini
dengan perasaan
antara iya dan tidak
aku tak ingin selalu begini
tapi itu yang selalu kutemukan
sesempurna apa?
aku lemah
aku ragu
aku bimbang
aku jatuh
aku jauh
aku malu
aku haru
aku rindu
aku cinta
aku diam
aku pengecut
aku takut
aku diantaramu
tak jauh
On LOVE tab
tak pernah kurasakan begini
aku seperti bermimpi
dan tak percaya
tapi sungguh aku sadar
saat ini tanganmu telah kugenggam
Oh,....
:: antara mimpi yang berlalu
cinta dan harapan
ketika cinta itu datang
rasakan debarnya
dan redumnya matamu
saat bahagia bersamanya
tanyakan hatimu
saat kau lemah
dan kau tak merasa ada beban
memohon sesuatu
dan dia memenuhinya
hambar senyummu berubah
terasa penuh arti
kau pun mendekapnya lembut
dan menjadi manja
tanyakan hatimu
mengapa kau diam?
siapa yang mulai?
tak perlu bertanya lagi
karena cinta ada disitu
menyapamu
memelukmu
mendekapmu
walau rendah dan lemah
:: ".... power of love!"
Porong ADA lapindo
kenanganpun telah musnah
dimana rumah yang penuh kenangan hilang
dimana kuburanpun telah terkubur
menyisakan bau
menyisakan lumpur
menyisakan sedih dan airmata
menyisakan pedih
menyisakan runtuhnya harapan
dan tersisah...
terkadang hanya ujung atap rumah
yang bisa dilihat
atau malah terkadang..."entah dimana...?!"
its real
kaca spion mobil....
terus berlalu meninggalkan dibelakangnya
dan sesekali melihat kaca itu
cuma hanya itu yang bisa dilakukan
dan didepan....
adalah tujuan dan harapan
iLUSI nYATA
yang selalu mengejarku
adakalanya disampingku
dibelakangku
didepanku
dan dilangkah kakiku
dalam siluet
penuh kuberharap
mengurai bayang
hingga kau dihadapanku
aku rindu
sungguh
:: .... rest my life
kau ruangku
walau sempit
walau pengap!
aku ingin didekatmu
walau kau tak peduli
berilah aku ruang
walau jarang kau melihatku
walau kau telah hilang
kuhanya ingin suaramu
berilah aku ruang
walau gelap
walau gelap
kuhanya gapai mimpimu
aku selalu rindu padamu
aku disini selalu inginkanmu
walau telah hujan dan kini panas
walau telah pagi dan kini malam
"... i need you beibh!"
overcome limitation without boundary
tapi ada juga orang yang melihat dengan mulutnya
dan berbicara dengan matanya
atau mendengar adalah fakta dan ketikan adalah bicara?
Hmmmm...
overcome limitation without boundary
mengatasi keterbatasan tanpa batas
open your mind http://www.kartunet.com/
kasihku
dan kasihmu menyelimuti seperti awan yang mengiringiku kelangit yang tinggi
::
Mimpi telah berlalu
Menghempas harapan,.. yang mungkin seperti mimpi
tapi kau masih diam
dan semangatmu lelah dan lemah
Ingatlah matahari masih ada, disaat kau bangun pagi
sadarlah kau tak bermimpi
dan teknologi telah membantumu untuk melihatnya
Apakah kau masih bermimpi?....
matamu berkaca-kaca
ya, kenyataan!
Kamu Cinta
cinta kamu tegar
cinta kamu sayang
cinta kamu senyum
cinta kamu bahagia
cinta kamu rindu
cinta kamu ...... adakah untukku
selalu....
:: love is heart not brain! for sometime reason

Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances