bunda
menyembunyikan resahmu
dan tetap saja tersenyum
seribu mata air saat hauspun
tak dapat menghilangkan dahagaku
bila kau tak tersenyum hari ini
bunda,...
matamu meneduhkanku saatku galau
menenangkan hati dalam resah
ku ingin kau selalu bahagia
mengeluhlah bila kau sakit
biar aku menanggungnya
jangan kau sembunyikan dariku
Oh bunda,...aku rindu padamu
Sahabat
tapi engkau tetap diam
ketika senyummu hambar
kumengerti bebanmu
aku sadar... tak seberapa langkahku
sahabat,...
bila itu maumu
aku biarkan langkahku bisu
sahabatku,...
aku mengerti....
Penumpukan Cairan Sebabkan Kematian Bill
JAKARTA, SELASA - Penumpukan cairan di paru-paru menyebabkan musisi jazz kenamaan Bill Saragih akhirnya meninggal dunia. Kondisi Bill juga kian memburuk akibat stroke yang sudah dideritanya sejak 7 tahun lalu. Seperti diutarakan salah satu keponakan tertuanya, Bob Mandala Saragih (45), Selasa (29/1), kondisi Bill mengalami penurunan drastis dalam selang 24 jam terakhir sebelum meninggal. Padahal, kata Bob, dua hari lalu pamannya itu masih dalam kondisi cukup sehat sehat dan segar, terbukti ia masih dapat menuruti perintah dokter.
"Diagonsa medis terakhirnya adalah penumpukan cairan di paru-paru. Kemudian pada saat-saat terakhir, kondisinya semakin kritis dan akhirnya beliau pun meninggal dunia," ungkap Bob kepada kompas.com. Sementara itu, pihak Rumah Sakit Fatmawati melalui keterangan salah seorang staff humasnya menyebutkan bahwa Bill sudah masuk sejak Rabu (23/1) lalu. Ia didiagnosa menderita komplikasi tiga penyakit yakni stroke, diabetes, dan bronkhitis.
"Pak Bill dirawat di rumah sakit Fatmawati sejak 23 Januari lalu. Ia dirawat di instalasi ruang rawat inap Paviliun Angrek. Menurut catatan kami, Bapak Bill didiagnosa mengidap tiga penyakit stroke, diabetes, dan bronkhitis," terang staff tersebut. Selama hidupnya, Bill memang diketahui memiliki kebiasaan yang kurang sehat.
Di mata sejumlah kawannya, ia dikenal sering makan tanpa kontrol selain juga perokok berat. Tak heran bila kebiasaannya tersebut membuat ia menjadi rentan terhadap penyakit yang disebabkan lifestyle seperti diabetes atau stroke. Seperti dikabarkan sebelumnya, Bill Saragih menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (29/1) pukul 11.15 WIB pada usia 75 tahun di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta Selatan. Musisi jazz tersebut lahir di Simalungun, Sumatera Utara, 1 Januari 1933. (M-308)
AC
:: Selamat Jalan sang Maestro!
Qwip cream
tuh! kan emang kadang harus baca petunjuk dengan lengkap. jangan cuma mengandalkan gambar doang.ya! harus jujur emang enggak dibaca kan! hehehheh "Iya!"
maklum rada tidak biasa cara mengeluarkannya. setelah tahu caranya,.. hm! crot dech! langsung ke mulut. eit! tapi jangan banyak-banyak. bisa ngeFAT lho!
:: inget gemuk, inget temen fitnes dech!!
Suharto Berlalu...
| Minggu, 27/01/2008 | 18:01 WIB Soeharto Berlalu Tanpa Kata-kata Terakhir Lantunan tahlil, surat Yasin dan semua bacaan menyambut ajal dibacakan menjelang pukul 13:13 itu. |
Tidak Biasanya
hanya hari libur biasa saja
sejak diberitahukan dia meninggal
semua acara tv tertegun dengan beritanya
akupun memperhatikan reaksi web diinternet
yang paling update ada CNN website
kompas.com
detik.com
RCTI tv yang pertama mengumumkannya
lewat acara idola cilik live show
CNN new tv
::
JIKA AKU MENJADI (Trans TV)
Tapi menurut saya, acara ini sangat bagus. Mengharukan itu, pasti ada. Bravo!
===========================================
Originally Posted by Satrio Arismunandar
Trans TV mulai hari Minggu, 25 November 2007, pukul 18.00 WIB, akan menayangkan program JIKA AKU MENJADI (JAM). Program magazine mingguan, berdurasi 30 menit, ini dengan demikian akan bertarung di prime time, berhadapan dengan berbagai sinetron yang sangat populer di stasiun-stasiun televisi lain. Keputusan bagian Programming, memasang JAM di slot pukul 18.00, dengan demikian adalah keputusan yang berani.
Saya selaku producer berharap, program JAM ini akan betul-betul memenuhi harapan KPI bagi munculnya program TV yang berkualitas, punya unsur edukasi, bukan semata-mata mengejar rating. Saya pribadi beranggapan, program JAM ini InsyaAllah akan ikut berperan dalam meningkatkan solidaritas sosial terhadap rakyat kecil.Yang dimaksud “rakyat kecil” di sini adalah mereka yang berprofesi "gurem," yang sering dipandang remeh dan tidak mendapat perhatian penuh dari pihak-pihak yang berwenang. Nara sumber JAM antara lain: buruh nelayan miskin (tidak punya perahu sendiri), nenek yang puluhan tahun jadi pemulung, pemain ludruk (kesenian khas Jawa Timur) yang tak pernah lagi dapat order, dan sebagainya.Program JAM pada hakekatnya adalah upaya melihat kehidupan rakyat kecil (dengan profesi gurem) dari mata rakyat juga. Meskipun, rakyat (diperankan oleh talent) yang melihat ini adalah mereka yang biasa hidup di kota, dan biasanya mungkin tidak terlalu aware dengan kehidupan rakyat kecil yang sebenarnya.
Sengaja kami pilih sebagai talent di sini adalah orang biasa (bukan artis). Mereka direkrut dari iklan pencarian talent yang belum lama saya sebar melalui berbagai milis. Mereka saya haruskan ikut menjalani kehidupan narasumbernya, yakni tidur di rumah mereka, makan bersama keluarga (sesederhana apapun makanannya), dan seterusnya. Jadi, mereka dipaksa untuk betul-betul menghayati kehidupan orang susah.
Kehidupan susah itu banyak terwujud dalam hal-hal yang sederhana, tapi tak terbayangkan bagi orang kota. Misalnya, rumah narasumber yang tidak ada WC atau jambannya, sehingga kita harus buang air besar di sawah atau kali kecil di pinggir jalan. Saya sendiri, ketika selaku producer ikut mengawasi proses syuting di Desa Gamping, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur (12-15 November 2007), juga sempat buang air besar di kali.
Kalau talent itu tampak terharu atau menangis di tayangan JAM, itu adalah tangisan asli dan alami karena situasi yang mereka hadapi. Jadi, bukan acting. Itulah sebabnya, saya tidak memilih talent yang sudah top atau artis sinetron, misalnya, karena bisa-bisa nanti penonton salah mengira, bahwa tangisan itu dianggap cuma acting.
Yang berat dalam menggarap program JAM bukanlah liputan atau syutingnya, tetapi justru risetnya. Saya tak bisa memperoleh narasumber yang tepat dengan hanya berbekal informasi dari Internet atau media massa, tetapi harus melihat langsung ke lapangan. Sebagai contoh: saya membutuhkan waktu tiga hari untuk menemukan seorang buruh nelayan, yang saya anggap paling miskin di Indramayu, Jawa Barat. Nelayan yang miskin di Indramayu itu banyak. Tetapi bagaimana menemukan nelayan, yang secara visual dan kondisi faktual betul-betul menggambarkan nelayan yang sangat miskin? Di sinilah letak kesulitannya.
Maka, pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya pada seluruh crew JIKA AKU MENJADI, yang telah bekerja keras dan serius, bagi perintisan awal program ini. Tanpa dukungan mereka, saya tak akan bisa berbuat banyak.
Saya merasa berbesar hati, bahwa pimpinan Trans TV percaya dengan kualitas program ini, sehingga memberi slot prime time. Namun, di sisi lain, saya juga merasa was-was tidak sanggup mempertahankan kualitas isi program, seperti diharapkan banyak orang. Saya cuma bisa bilang “bismillah” saja, semoga semua berjalan lancar.
Nah, untuk tidak berpanjang kata, silahkan saja menikmati tayangannya! Jangan lupa, Minggu, 25 November, pukul 18.00. Terimakasih atas perhatian dan apresiasi Anda semua!
Jakarta, 20 November 2007
source : click here
====================================
DETIK.COM 27.01.08
Probo Keluar dari Lapas Sukamiskin Menuju Jakarta
Adik tiri mantan Presiden Soeharto, Probosutedjo, dengan dikawal empat orang meninggalkan Lapas Sukamiskin, Jalan AH Nasution, menuju Jakarta.
Halimah dan Anak-anaknya Melayat ke Cendana
Jenasah Pak Harto masih berada di RS Pusat Pertamina. Namun keluarga memilih langsung datang ke Cendana. Salah satunya Halimah dan anak-anaknya.
Bupati Karanganyar: Pak Harto Dimakamkan Besok Pagi
Pemakaman mantan Presiden Soeharto rencananya akan dilangsungkan besok pagi di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah.
Minggu, 27/01/2008 14:05 WIB
Soeharto Wafat
Tutut: Maafkan Kesalahan Bapak
Putri pertama mantan Presiden Soeharto Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut meminta semua kesalahan Soeharto dimaafkan. Ia mengharapkan agar ayahnya diampuni dan diterima Allah SWT. Minggu, 27/01/2008 14:02 WIB
Skenario Pemakaman Soeharto: Cendana - Halim-Solo - Giribangun
Mantan Presiden Soeharto wafat pukuil 13.10 WIB. Belum diketahui, kapan Soeharto akan dimakamkan. Namun, skenario pemakaman Soeharto telah dipersiapkan.
Minggu, 27/01/2008 14:00 WIB
Jenazah Pak Harto Dibawa ke Cendana, Sejumlah Jalan Ditutup
Jenazah mantan Presiden RI Soeharto akan dibawa ke Cendana. Sejumlah ruas jalan yang akan dilalui dari RSPP menuju Cendana akan ditutup sementara. Minggu, 27/01/2008 13:58 WIB
Soeharto Meninggal, Akses ke Cendana Ditutup
Bagi Anda yang akan melintas di sekitar jalan Cendana, Menteng, Jakarta harus berpikir dua kali. Akses menuju kediaman almarhum Soeharto itu ditutup total.
Minggu, 27/01/2008 13:58 WIB
Soeharto Wafat, Ditetapkan 7 Hari Berkabung
Mantan Presiden Soeharto telah berpulang. Pemerintah Indonesia menetapkan waktu berkabung selama 7 hari.
Soeharto Wafat
JAKARTA, KOMPAS - Berikut adalah riwayat kesehatan dan pengobatan mantan Presiden Soeharto:
11 – 12 Februari 1969
Presiden Soeharto beristirahat selama dua hari di kediamannya karena kelelahan. Sakitnya itu mulai terasa ketika Presiden sedang memimpin sidang sub Dewan Stabilitasi Ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta. Presiden merasa pusing dan berkeringat sehingga harus berganti pakaian.
14 – 21 Desember 1975
Presiden Soeharto menjalani operasi kandung empedu dan perawatan pascaoperasi di Rumah Sakit Sint Carolus, Jakarta.
09 - 11 Juli 1996
Presiden Soeharto memeriksakan kesehatannya di rumah sakit Bad
Oeynhausen, Jerman. Ketua tim dokter, Prof Reiner Koerfer, menyatakan, Presiden lebih sehat dari yang diduga. Untuk orang setua Presiden Soeharto (75), kondisi kesehatannya sangat baik.
20 – 30 Juli 1999
Mantan Presiden Soeharto (78) dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Menurut menantu Soeharto, Indra Rukmana, Presiden kemungkinan terkena serangan stroke ringan.
14 – 19 Agustus 1999
Mantan Presiden Soeharto dirawat di RSPP, Jakarta, karena mengalami perembesan darah dari anusnya.
07 Oktober 1999
Tim dokter mantan Presiden Soeharto dalam Surat Keterangan yang ditandatangani Dr Hari Sabardi, menyatakan, Jenderal Besar TNI itu masih dalam keadaan sakit, sehingga tidak dapat mengikuti pemeriksaan di Kejaksaan Agung. Ketua tim penasihat hukum Soeharto, Juan Felix Tampubolon menjelaskan, Surat Keterangan itu dibuat, berkaitan dengan rencana Pjs Jaksa Agung Ismudjoko yang hendak mengumumkan status hukum Soeharto pada tanggal 11 Oktober 1999.
17 Februari 2000
Berkaitan dengan rencana DPR dan Kejaksaan Agung memanggil mantan Presiden Soeharto, Probosutedjo, saudara tiri mantan Presiden Soeharto mengatakan, kondisi mantan Presiden Soeharto sehat secara fisik. Namun dia tidak bisa bicara. Kalaupun dipaksakan, bicaranya harus pelan-pelan dan sangat susah. Menulis pun tidak bisa. Yang masih bisa hanya tanda tangan. Karena itu, tidak efektif kalau pihak DPR dan Kejaksaan Agung tetap berkeinginan memanggil Soeharto untuk menjelaskan soal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).
13 Maret 2000
Mantan Presiden Soeharto, menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Pemeriksaan kesehatan itu dilakukan Tim Dokter RSCM didampingi Tim dokter Soeharto untuk menentukan kelanjutan pemeriksaan hukum atas diri Soeharto.
28 Maret 2000
Koordinator Kuasa Hukum Soeharto, Juan Felix Tampubolon menjelaskan,
hasil pemeriksaan tim dokter terhadap kesehatan mantan Presiden Ssoeharto, menyatakan, Soeharto mengalami hambatan dalam komunikasi. Artinya, apa yang dikatakan Soeharto tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
04 April 2000
Jaksa Agung Marzuki Darusman menyatakan, rekomendasi tim medis RSCM mrnyatakan Soeharto bisa menjalani pemeriksaan. Karena itu tim penyidik Kejaksaan dapat melakukan pemeriksaan awal, dan akan diikuti dengan pemeriksaan lebih lanjut.
10 April 2000
Kesehatan mantan Presiden Soeharto menurun, ketika hendak dilakukan pemeriksaan oleh Kejaksaan Agung. Direktur Politik Kejaksaan Agung Purnama Munte menjelaskan, sesuai penjelasan dokter, baik dari RSCM maupun dari dokter Pak Harto, mantan Presiden Soeharto belum dapat memberikan keterangan. Oleh karena itu, pemeriksaan ditunda sampai ada penjelasan resmi dari dokter yang menyatakan Soeharto mampu memberikan penjelasan.
12 Juni 2000
Tim penyidik Kejaksaan Agung, seusai memeriksa mantan Presiden Soeharto di Jalan Cendana Nomor 8 Jakarta Pusat, diminta tim penasihat hukum mantan Presiden Soeharto untuk menghentikan pemeriksaan atas diri Soeharto. Karena sebagian besar pertanyaan tidak dapat dijawab oleh Soeharto karena menyangkut kejadian beberapa tahun silam. Selain itu, apa yang disampaikan Soeharto tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
23 September 2000
Tim pemeriksa kesehatan mantan Presiden Soeharto, terdiri dari unsur IDI, Departemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran (FK) UI, FK UGM, dan FK Unair, melakukan pemeriksaan kesehatan mantan Presiden Soeharto di RSPP, Jakarta.
28 September 2000
Tim dokter penguji yang diketuai Prof Dr dr M Djakaria SpR menyimpulkan bahwa Soeharto, baik fisik maupun mental dalam keadaan tidak laik untuk disidangkan. Keadaan tidak laik ini bersifat permanen. Dari hasil pemeriksaan ditemukan, kemunduran daya ingat dan kemampuan berbahasa Soeharto, serta kemampuan menerima, memahami, maupun menuangkan ide sangat buruk. Soeharto hanya mampu memahami ide sederhana yang dikemukakan secara perlahan dan berulang-ulang. Dan dalam mengungkapkan ide Soeharto mengucapkan kata yang tidak sesuai dengan yang ia maksudkan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Tim dokter yang memeriksa kesehatan mantan Presiden Soeharto, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan untuk menghentikan persidangan kasus dugaan korupsi mantan Presiden Soeharto dan membebaskannya dari tahanan kota.
13 – 14 November 2000
Mantan Presiden Soeharto mengalami anfaal dan sesak napas, di kediaman Jalan Cendana No 8, Jakarta. Tim dokter segera memasang saluran oksigen untuk membantu pernapasan dan infus untuk memperkuat tubuhnya.
26 Maret - 02 Maret 2001
Mantan Presiden Soeharto dirawat di RSPP, Jakarta, karena mengalami sesak napas dan tekanan darahnya naik.
12 - 13 Juni 2001
Mantan Presiden HM Soeharto menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung permanen di RSPP, Jakarta. Operasi yang berlangsung selama sekitar 35 menit tersebut berlangsung sukses.
17 – 28 Desember 2001
Mantan Presiden Soeharto kembali dirawat di Rumah Sakit Pertamina Pusat karena menderita radang paru-paru, sesak nafas, dan panas. Kondisinya
memburuk karena usianya yang sudah lanjut.
14 Maret 2002
Mantan Presiden Soeharto dirawat di rumahnya di Jalan Cendana No.8 Jakarta karena mengalami perdarahan setiap kali buang air besar.
26 April 2004
Karena kembali mengalami pendarahan pada pencernaan bagian bawah atau secara spesifik pendarahan di usus besar yang mengakibatkan hemoglobin (Hb) rendah, yaitu 6,3, mantan Presiden Soeharto harus kembali dirawat di RSPP, Jakarta.
05 – 10 Mei 2005
Mantan Penguasa Orde Baru, Soeharto, dirawat lagi di Rumah Sakit Pertamina Pusat, Jakarta. Usus besarnya kembali mengalami perdarahan.
04 November 2005
Mantan Presiden Soeharto, kembali dirawat Rumah Sakit Pertamina Pusat, Jakarta. Seorang sahabat dekat keluarga Soeharto mengatakan, Pak Harto kelelahan karena menerima banyak tamu pada Lebaran pertama.
Sedangkan sumber lain mengatakan, HB-nya turun.
4 Mei 2006
Mantan Presiden Soeharto dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, akibat perdarahan berulang pada saluran cerna. Perdarahan itu menyebabkan hemoglobin menurun hingga 7,8 gram persen dan berakibat pada menurunnya kadar oksigen di seluruh tubuh.
7 Mei 2006
Mantan Presiden Soeharto menjalani operasi pembedahan saluran cerna oleh tim dokter terpadu di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Operasi tersebut dilakukan guna mencegah pendarahan pada pencernaan bagian bawah atau secara spesifik pendarahan di usus besar bila terjadi infeksi.
18 Mei 2006
Dari pemeriksaan CT Scan, Tim Dokter Kepresidenan di Rumah Sakit Pusat Pertamina,Jakarta, menemukan dua titik penyumbatan pembuluh darah di otak bagian kanan mantan Presiden Soeharto.
4 Januari 2008
Mantan Presiden Soeharto kembali dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, karena kadar hemoglobin rendah, tekanan darah turun dan ada penimbunan cairan sehingga tubuh membengkak.
Sumber: Litbang Kompas
Laporan Wartawan Kompas Maria Susy Berindra A
JAKARTA, KAMIS - Mantan Presiden Soeharto meninggal dunia pada pukul 13.10 WIB, Hal ini diterangka Kapolsek Kebayoran baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta, Minggu (27/1). Menurut rencana, jenazah akan segera disemayamkan di rumah duka Jalan Cendana, Jakarta.
LHW,Maria Susy Berindra A













Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances